Doctor – Pharmacist kita saudaraan kok

Kita..saudaraan koook…
saya ingat… jaman2 kuliah dulu, ketika adik saya menelpon untuk nanya tugas farmasinya..dan konon tugas dia dikomentarin ‘isinya terlalu kedokteran’ hehehehe… karena saat itu, memang buku yg ada adalah buku kedokteran..
koleksi buku farmasi dirinya belum terlalu banyak…
lalu.. ketika akhirnya kami selesai kuliah, buku kami disusun Ayah… buahahaha..
ternyata..
tebal dan banyaknya ga jauh berbeda..
apalagi yang namanya Farmakope … boleh lah dibandingin dengan Fisiologi Guyton…atau kamus Dorland..sama..sama tebalnya..mirip fungsinya.. ‘tatakan keyboard’ (xixixixi..ngaku deh).
Apoteker dengan sekolah yang lama..ga jauh beda dengan dokter..(dan susaaah… ga percaya.. liat aja passing grade FK dan farmasi..beda tipis kok) jadi samaaa aja, cuma orang baik,pintar,cerdas yang mikir buat masuk ke Farmasi.. (aaaaih..saya belain anak farmasi hehehe).
dan Ayah sering bilang kalau ada sesuatu yang susah dibuat, ayah komentarnya gini ‘ya iyalah susah..ada sekolahnya (kuliah) lagi’
tetap semangat yaa..TS dr dan TS Apt
Salam,
saya..
‪#‎adik‬ dari seorang dr, kakak dari seorang Apt
‪#‎dan‬ teman dari banyaaaak dr dan Apt

Advertisements

Teruntuk Sahabat yang mau (sedang) Sekolah (lagi)

tumblr_static_55jesgr6j544oss4kso8skc84

Ketika seorang teman “galau” mau sekolah lagi apa ga.. lalu terucap:
“Ntar pas udah lulus tuh anak udah sibuk aje sama temennya.. alhasil ortu dicuekin”

Jleb-jleb gimana gitu.. mendengar kalimat ini.

duuh, semoga ga terucap dari diri sendiri ke teman-teman yang sedang saat ini sedang menempuh sekolah lagi.

Teman saya ga banyak-banyak banget, lucunya lagi, entah kenapa.. teman saya (yang lumayan dekat) dari SMA mengambil bidang yang ga jauh-jauh juga.. bidang medis juga xixixixi (ga luas amat pertemanan mu Ra).

Eniwei.. ini bisa dibilang tahun ke 6 saya nangkring di Institusi yang kebetulan adalah tempat pendidikan lanjutan dokter alias Spesialis, Oia saya pribadi ga sekolah spesialis (entahlah, ga ngerasa panggilan jiwa aja kali yaaak xixixixi), karena udah lama juga nangkring disini, lumayan laah bisa lihat kiri-kanan sok-sok judging kehidupan mereka yang sekolah lagi, walo pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan “DON’T EVEN JUDGE THEM” tumblr_mdlhq8TmnB1qjm9bpo1_500yaiyalaah.. dipikir-pikir juga.. saya cuma “mengamati” kehidupan mereka jam 9-15 aja.. padahal kehidupan para residen itu… dari jam..sampai jam ? ga adaaaaa jam ituuuu!!! kehidupan residen itu 24/7/4/12/365 (ngerti kan ?!!).

Balik lagi ke topik awal “mereka teman saya”, iya teman saya, berarti mostly teman-teman yang wanita. Saya selalu salut dengan mereka yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah..!! ya, karena saya rada sedikit (banget) tahu kaya apa kehidupan di RS ini, jadi agak kebayang aja, berapa kali mereka mengulang-ngulang, merenung, mikir, mempertimbangkan segala-galanya sebelum mereka akhirnya menempuh jalan itu.

Sebenernya sih, mikir ngambil Sekolah lagi itu.. ya.. pertimbangannya CUMA Kepada diri sendiri : siap ga ? , trus kepada Keluarga : mendukung ga ? Kalau dua jawaban “IYA” itu muncul di kepala teman-teman, ya udah, LANJUT AJA SEKOLAHNYA  , Ga usah mikir-mikir amat “ilmunya ntar berguna apa ga ?!”  ya masaak.. belajar sesuatu yang tidak bermanfaat tho yo.. , Kalau masih mikir “keluarga gimana yak ?” - yaaaa berarti masih belum “IYA” dua pertanyaan di atas.

stay-strongSaya selalu berusaha bilang ke teman-teman yang akan/ mau sekolah lagi “kalau tiba waktunya, akan Mestakung (semesta mendukung) koook, don’t worry”.

Jadi, buat teman-teman yang baru akan hendak ingin (galau tingkat tinggi) ngambil sekolah lagi, plis.. plis banget ini mah.. jangan ngeluarin statement-statement ga penting, yang akan buat teman-teman yang lagi berusaha (menjadi lebih berguna di masa depan), mendadak ga fokus. Simpan sendiri semua keraguan kalian, jangan ditebar-tebar ga penting. Kalau kalian mau sekolah, yaaa.. luruskan niat, persiapkan mental diri, minta dukungan keluarga.

Teruntuk seorang sahabat yang sedang sekolah
You-are-braver-stronger-smarter

“Semoga Allah SWT menjaga ketulusan niat kalian untuk belajar dan menjaga keluarga kalian selalu”

#pictures taken from google

STR ..SIP…Done.. for the next 5 years

SIP… fiuuh for another 5 years (4.5 years)
Akhirnya.. akhirnya Surat Ijin Praktek nya selesai juga.
Waloooo ribeeeet
eh ga boleh bilang ribet yak..
Oke deh,
full of administrasi

Kenapa Ra bisa bilang gitu ?

Yaaa dipikir pikir, yang `berada di posisi` Mira, kemungkinan akan MALAS tingkat tinggi.
Kenapa ?
Karena KTP Mira KTP Jakarta, jadi Surat Rekomendasi nya dari IDI Jakarta.
Trus… aslinya, Rumah di Depok. Lalalala..
Dan saat ini Mira mau buat SIP di RSUP dr. Hasan Sadikin alias Bandung.

Jadi kira-kira bisa kebayang bolak-baliknya kaya apa

Trus flow Administrasinya apaaa ajaaa..
Surat Tanda Registrasi (STR)
Maret 2015
Pertama, sebelum mengurus SIP, haruuus mengurus perpanjangan STR dulu, tapi alhamdulillah pisan.. IDI Jakarta Barat bageeeuuur pisan, very helpful selama kita ikutin administrasi nya mereka.
23 Maret nyerahin berkas ke IDI Jakarta
Alhamdulillah STR Mira selesai within 3-4 bulan (others complaining by due date over 6 months) (see STR Fiuuh for another 5 years)

28 July 2015 selesaaai.. horeee
Truuus.. udah dengan PD nya `STR saya udah selesai, mau buat SIP`, eeeh ternyata..

Surat Keterangan Domisili
Agustus 2015,
Buahahaha.. ternyata, di Jakarta sudah ga keluar lagi surat keterangan Dinkes `tidak melakukan praktek di kota Jakarta` , akhirnya kata IDI Bandung, `pakai surat keterangan Domisili aja`, jadi..
kucluk kucluk ke Bu RT dan Pak RW sampai ke Kelurahan dibilangn `form nya bukan ini` haaaaa…. Ulang lagi donk ke Bu RT dan Pak RW.. truuus.. eeeeh sampai ke Kelurahan, dapat informasi `lembar pengantar dari RT RW nya salah, dan sekarang sudah tidak keluar lagi, surat keterangan Domisili (harusnya pindah KTP hehehe), eniwei akhirnya lanjut juga ke kecamatan untuk nanya kepastian, akhirnya pasti `ga ada surat keterangan domisili`, jadi berbekal surat Keterangan dari RT dan RW aja.. berdoa aja, diterima sama IDI deh.

KRIP dan Rekomendasi IDI Asal
Sejak 2012an, ada mini workshop yang diadain oleh IDI untuk mendapatkan surat dari KRIP (Komite Rekomendasi Ijin Praktek), dan diadainnya juga sebulan sekali aja, daan lucky Mira.. pas banget nelponnya, dibilang `KRIP yang bulan ini, diadain weekend ini Dok` huaaaa.. langsung daftar (oia.. GRATIS, walo itu berarti, kudu kucluk2 dari Bandung ke IDI Jakarta Barat di Meruya.. Gpp Jalanin ajaaa.
28 Nov 2015
Pas KRIP itu, dijelasin apa yang harus dilakukan, supaya sejalan dengan ketentuan UU dll, yang menjalani KRIP ini, yaaa semua yang dokter umum maupun dr Spesialis, jadi ajang sharing juga sih.
Setelah selesai ikutan KRIP ini, dapat sertifikat dan Surat Rekomendasi Ijin Praktek. Sekitar 2 mingguan dan sertifikatnya boleh minta tolong dikirimkan loooh
Oia, untuk Rekomendasi IDI tiap anggota wajib Bayar Rp.60.000 aja kok, trus siap siap bayar keanggotaan IDI yak waktu kmrn itu, mira bayar langsung Rapel 5 tahun

Daaaaan.. akhirnya,
Tengah Desember 2015, berkas diserahkan semuaa ke IDI kota Bandung.
Oia, untuk anggota IDI non Bandung, bayar biaya pengembangan IDI 300ribu. Surta rekomendasi dari puskesmas setempat, daan udah deh.

Akhir Desember Berkas (katanya) diserahkan ke Dinkes..

Alhamdulillah..selesai

Alhamdulillah..selesai

Dan akhirnyaaaa… Di Februari 2016 ini.. SIP Mira Jadi…. Huaaa.. terharu gimana gitu..
Alhamdulillah pengurusan SIP nya juga ga sampai 2 bulan.

Re-registrasi STR…fiuuh for the next 5 years

Re-registrasi STR
Dimulai dengan kalimat yang agak-agak negatif “bakal repot niiih yang namanya registrasi ulang”
Iyaaa, akhirnya hari itu sampai juga, apalagi kalau bukan Surat Tanda Registasi (STR) habis masa berlakunya.
STR apa sih ?
Udah rada basi sih ngebahas itu, intinya sih..
Tenaga Kesehatan (termasuk dokter, dokter gigi (juga katanya perawat dan apoteker) begitu selesai pendidikan harus melakukan registrasi di Kolegiumnya, karena saya adalah dokter, jadi paling bisa cerita yang nasibnya sama.. yaitu tentang proses registrasi para Dokter umum.
Buat lulusan setelah 2009, Ketika lulus pendidikan dokter, ada Uji Kompetensi Dokter Indonesia, yang setelahnya akan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) intinya sih (sepertinya) ini adalah program perapihan administrasi, jadi para dokter ini akan tercatat sebagai dokter di Indonesia. Kalau udah punya STR, baru bisa mengurus Surat Ijin Praktek (SIP).
Oiaaa.. STR ini ada masa berlakunya, 5 tahun. Jadi klo abis, ya kudu perpanjang, dan mengingat proses verifikasi yang lumayan lama, dah diwanti-wanti, atleast 6 bulan sebelum STR habis, mangga diurus.
Kenapa ?
Yaaa.. IMHO ya.. bagus kok programnya, sebenarnya sesimpel “meminta pertanggung jawaban dari para dokter, demi ‘kebaikan’ dokter dan orang-orang di sekitarnya. Akhirnya muncul yang namanya program P2KB ( Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan ), yang dilihat tentunya apa yang tetap dilakukan para dokter.
Ada beberapa aspek yang dinilai (pembelajaran, pengabdian, professional dll) bisa dilihat di http://p2kb.idionline.org/ .
Tapiiiii.. terlepas dari usaha mereka (team P2KB) untuk ber online2 ria (semoga suatu saat asli kesampeaaan.. biar canggih beneran gitu) , sementara proses ini diserahkan kembali IDI Cabang masing-masing, maksudnya, yaaa apalagi kalau bukan ‘menolong’ para dokter yang tidak sempat ber-online2 ria lah.. dan (mungkin gaptek xixixixi.. termasuk saya).

Langkah-langkahnya.
1. Kucluk-kucluk ke IDI Cabang sesuai keanggotaan.
Nanti di IDI Cabang, akan dikasi borang yang harus diisi dan syarat lain yang diperlukan
(waktu sayaa.. dengan PD nya sudah bawa ‘borang’ yang saya isi2 sendiri, bawa foto banyak.. eeeh ternyata salah semua, ya salah pengisian, salah juga ukuran foto yang saya bawa-bawa xixixi), kenapa saya bisa salah, karena saya “bertanya pada teman-teman yang sebenarnya.. berbeda IDI Cabangnya… gubrak.

Trus timbul pertanyaan lagi “kenapa ketentuan IDI Cabangnya beda-beda??” , hm.. dari yang saya lihat sih, itu dari administrasi aja, bisa jadi jumlah foto berbeda, karena akan digunakan juga untuk data base di IDI Cabang. Gitu-gitu lah.
Ya intinya “Datang Dulu ke IDI Cabang” #bertanya pada orang yang tepat..!!

2. Serahkan sertifikat dan bukti-bukti keikutsertaan dalam kegiatan.
Biasanya paling riweuh “bukti kesertaan di pengabdian”, kalau kebetulan ikut di acara pengabdian yang rada besar, bisa request ke Panitia untuk dibuatkan sertifikatnya. Tapi kalau Cuma dengan baik hatinyaaaa, bikin acara penyuluhan kecil, minta saja bukti daftar hadir para pesertanya (insyaAllah diterima sama IDI Cabang kok) sebagai bukti. Semua sertifikat ini harus diserahkan ASLI dan fotocopi, karena yang aslinya nanti akan di VERIFIKASI, ada cap nya. Sertifikat kapan yang bisa berlaku ? ya sertifikat dengan tanggal yang masuk dalam range masa berlaku STR .
3. Lulus Verifikasi Berkas
Tunggu Kabar dari IDI Cab, apakah berkas yang diserahkan itu LULUS VERIFIKATOR IDI Cab, yang rajin tanya ke IDI Cabang nya, semoga berkasnya ga ke lewat  Proses ini bisa sampai 3-4 bulan, ya eyaaalah 1 dokter bisa menyerahkan sebundel banyaaak, dan diverifikasi satu-satu.
4. Sertifikat Kompetensi
IDI Cab akan lapor ke Kolegium Dokter Indonesia (KDI), nanti keluar yang namanya Sertifikat Kompetensi, mungkin sebulan waktunya.
5. SMS dari KKI
Laporan Berkas yang diterima oleh KKI akan melalui SMS ke nomer yang kita cantumkan, Status Berkas bisa dicek di web kki http://www.kki.go .id , jadi kita bisa tahu sudah sampai mana proses penerbitan STR kita. Tulisan di web nya, STR baru akan keluar 18 hari setelah berkas kita diterima KKI.
6. STR Baru selesai
KKI akan mengeluarkan STR baruuuuu…
7. STR Baru akan dikirimkan ke Kantor Pos Besar, yang sesuai dengan alamat pengiriman yang kita cantumkan di Borang.
8. Surat Panggilan Dari Kantor Pos
Kantor Pos akan mengeluarkan surat panggilan ke Alamat pengiriman Dokter.
9. Ambil STR ke Kantor Pos
Bawa Surat Panggilan dari Kantor Pos, ke Kantor Pos untuk ambil STR nya.. , kalau ga bisa ambil ke kantor pos, buat surat kuasa untuk pengambilan nya.
10. STR BARU diterimaaaaa ..
isinya sama dengan STR pertama yang kita terima lengkap dengan amplop coklat dan map Hijau nya. Berisi 1 buah STR Asli, 3 buah Legalisir STR, 1 kartu STR, dan surat dari KKI nya.

Melihat ke Diri sendiri,
STR saya habis bulan July 2015, dan dengan (merasa terlambat) saya baru mengurus di minggu ke-4 Maret,
• 23 Maret 2015, (harusnya Januari miraaaaa ..) saya menyerahkan berkas ke IDI Cab
• 27 Jul 2015 : dapat SMS dari KKI, kalau berkas saya diterima KKI tgl 1 Juni 2015 xixixi… cek status di registrasi.kki.go.id (dari berkas diterima ke tanggal SMS nya rada jauh juga yak.. hehehe) dengan berita :
“ 03 Juni 2015 : tanggal Surat Tanda Registrasi
12 Juni 2015 : STR selesai, kirim lewat POS “
• 28 July 2015 : Staf Sekre IDI Cabang ngabarin kalau STR saya sudah diambilkan, dan sorenya langsung dikirim ke saya yang ada di Bandung.
• 28 July 2015 malam : Horeeee STR baru saya sudah sampai. Dan setelah saya lihat-lihat berkasnya..
“ 30 Maret, 2015 pembayaran P2KB saya dilakukan… (wooo 1 minggu kemudian, berkas saya selesai di verifikasi, oia kalau berkas selesai diverifikasi akan ada pembayaran yang dilakukan rek Konsil Kedokteran Indonesia (tahun ini Rp. 300.000,-)
11 Mei 2015 : tanggal sertifikat kompetensi
03 Juni 2015 : tanggal STR “

Mau misuh2 tentang SMS yang lama banget, tapi ga jadi ah…
kalau dihitung-hitung.. pengurusan yang saya jalanin sekitar 4 bulanan,
Alhamdulillah staf IDI Cabang nya helpful bangeeeet. Dan saya ga perlu nungguin proses dari pak Pos yang konon katanya selalu bikin deg-deg an.. yaa gimana gaa.. ada berapa STR yang dikeluarin oleh KKI.. ratusan mungkin ribuan.. dan sangat mungkin “keselip”,
jadi Alhamdulillah bangeeet.. IDI Cab nya berbaik hati mengambilkan STR saya ke KKI, trus ngirim langsung ke saya.
Hatur Thankyu ke pihak-pihak yang ikutan saya riweuhin waktu ngurus berkas-berkas ini.. xixixi

STR Baru alhamdulillah

STR Baru alhamdulillah

ramuan baru yang disebut kebijakan

Jadi dok, pasiennya diresepkan apa ? Obat A, obat B , obat C
Harganya dok ? Obat A aja Rp. 8.000 / tablet Obat B.. lupa harganya.. obat C juga
Berapa lama dikasihnya dok ? untuk 2 minggu.
Cukup dok ? kan Rp. 8.000,- x 15 = Rp. 120.000,- bukannya batasnya Rp.150.000 ?! obat lainnya ? (ga dijawab lagi)
Memang Cuma perlu 2 minggu, atau nanti dikasih lagi ? harus minum tiap hari, ya nanti 2 minggu lagi kesini lagi.
Lha.. memang pasiennya rumahnya dekat dok ? hm.. (ga dijawab lagi)

Hm… dan percakapan itu terhenti. karena “BINGUNG” meneruskannya…

Entahlah, apakah ketika sekat-sekat biaya obat, laboratorium, jasa medis, ditentukan mereka yang disebut para ahlinya sudah melakukan riset bertahun-tahun, study banding ke Negara lain (mungkin). Apakah mungkin, riset dilakukan sejak harga 10-20 tahun yang lalu, sehingga “patokan sekat” yang digunakan adalah harga-harga 10-20 tahun yang lalu ? sehingga menjadi tidak eligible lagi untuk diterapkan ketika masa sudah berganti lebih dari 1 dasawarsa.

• apakah diantara “Team ahli” itu tidak ada pakar bidang ekonomi yang bisa memprediksi akan bagaimana laju dollar yang sangat mempengaruhi biaya impor bahan baku dan biaya produksi obat.
• Tidak adakah ahli statistik, yang “memprediksi” seperti apa laju pertambahan penduduk, akankah penduduk Indonesia menjadi grafik “penduduk tua” atau “penduduk muda” (jika ada yang masih ingat, grafik penduduk saat pelajaran geografi, sosiologi). Sehingga pola penyebaran penyakit dapat diduga, dan sarana penunjang dapat disesuaikan.
• Tidak adakah para ahli di bidang penyakit yang memperjuangkan obat dan pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk tegaknya suatu diagnosa sehingga proses penyembuhan penyakit yang sesuai bidang keilmuannya tidak ada yang terpangkas, agar setiap tenaga medis di lapangan dapat memberikan pelayanan dengan semaksimal mungkin, tanpa harus memikirkan hal lain.

Sangat yakin, para ahli itu ada.. dan (berharap) setidaknya mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan

Lalu bertanya kembali, adakah pertemuan yang terjadi diantara para ahli itu ? sehingga terbentuklah ramuan yang meliputi semua aspek , yang tidak menguntungkan 1 pihak, tidak pula merugikan 1 pihak. Tapi, satu yang harus disadari, layaknya sebuah Ramuan baru yang diperkenalkan, tidak ada Ramuan yang benar-benar 100% aman, selalu ada yang disebut EFEK SAMPING, karenanya orang-orang selain para ahli itu hanya bisa berharap dan percaya, setidaknya Ramuan baru itu lebih sedikit efek samping, sehingga lebih tidak merugikan banyak pihak.
Ramuan baru .. obat baru.. yang disebut KEBIJAKAN, yang dibuat berdasarkan (mungkin) proses pemikiran panjang para ahli pembuat kebijakan.

# Berbaik sangka kepada para ahli tersebut… 1 Minggu pasca berlaku nya JKN