Minggu bersama Ayah

Minggu bersama Ayah
ah bukan, bukan seperti lagu ‘naik delman istimewa’..
hari Minggu adalah…
kami akan pergi ke rumah kami yang agak jauh dari hiruk pikuk ibukota..
Bukaaaaan… bukan sebuah villa di Puncak yang adem :p
bahkan bisa dibilang ‘rumah itu belum jadi’
ahahahaha…
iya, kami ‘merapikan rumah’ itu bareng Ayah…
Pacul asli yang besar banget, membuat ayah membuatkan kami pacul2 kecil xixixixi..
Lalu disaat ayah bekerja.. kami akan ikutan ‘sibuk’ di sudut lain rumah.. bikin adonan semen sendiri… atau ikutan ayah..menyusun batu koral sepanjang jalan setapak (yang cuma 3 meter paling hehehe)
Ceritanya gardening gitu…
lalu sekitar jam 12an…
kami pergi ke supermarket..
untuk beli eskrim
‪#‎minggu‬ bersama Ayah

Sinema 4D (Ayah episode)

“Sinema 4D”
Karena Sabtu , kebetulan.. ‘boleh’ agak begadang..karena besok libur..
Suatu malam, nonton bareng ayah..filmnya kungfu tapi komedi..
Ayah, punya habit..kalau nonton film action, serasa ikutan di film..ikutan beraksi, elak kanan kiri, alhasil.. gerakannya ayah heboh juga..bukan cuma kepala elak kanan kiri, kadang sampai bahu ikutan mengelak….
karena tipi di lantai atas yang terbuat dari kayu..ternyata (sepertinya terdengar kriet..kriet ) jadilah ganggu ibu yang di kamar bawah..
ditambah saking lucunya itu film, sampai kami ketawa heboh banget.. trus akhirnya ibu sampai nyamperin ke atas ‘NONTON APA SIH!!!”
xixixixi… ampun bu….
#(serasa)4D
‪#‎sabtu‬ malam bersama Ayah
‪#‎kungfu‬ filmnya ayah

Menunggu diantarkan

menunggu diantarkan
18.00….
Penelpon : dok, punten..
Saya : ya
P : kalau dr ahli reumatik yang praktek malam dimana ya ?
S : hm…punten pak, saya tidak hapal..tapi bisa ke RS A, B, C, D. kenapa memangnya pak ?
P: ini dok, papa saya..kata teman-temannya reumatik
S: hm…reumatiknya kaya apa pak
P: itu dia dok, ada demam..trus matanya bengkak
S: ha ? … trus yang bilang reumatik siapa
P : temannya, trus dikasi obat malah jadi gitu.
S: ooo kalau gitu, bukan cari dr reumato dulu pak, tapi ugd dulu
P: iya dok, makanya nyari yang jadwal malam, biar bisa dianter
inhale…exhale…
S: pak, untuk kasus seperti itu..ke UGD dulu..penanganan gawat daruratnya dulu..tinggal bapak cari UGD dari RS yang td saya sebut..ga perlu nyari praktek sore..nanti beliau insyaAllah dihubungi sama yang jaga..bahkan bisa datang ke RS walau tidak praktek.
double inhale..exhale…
harus ya.. sang Papa nunggu hingga malam (yang mungkin keluhannya sudah dirasa (minimal) sejak kemarin… supaya bisa diantar

Mudiknya Ayah

Dari dulu, saya selalu bertanya-tanya, alasan kenapa saya kalau ‘mudik’ selalu hanya ke rumah orangtuanya Ibu saja ??!! terlepas bahwa ternyata (sepertinya) di suku daerah kami, mudik itu ke rumah keluarga perempuan.

Alasan lain mungkin, karena kampung Ayah terletak lebiiih jauh, yang berarti lebih mahal, walau saya bertanya-tanya juga ‘tapi kayanya teman-teman saya mah, mau sejauh apa pun, sepertinya tetap aja ‘mudik’, maka jadilah saya merasa sepertinya esensi mudik itu, hanya sekedar ‘mengunjungi rumah nenek kakek (dari garis ibu).

Jadilah, memori saya akan ‘kampung halaman’ adalah ketika saya masih TK, satu kali saja, setelah itu, kalaupun ada event tertentu, Ayah tidak terlalu ‘memaksakan’ kami anak-anaknya untuk ikut ke kampung halaman Ayah (yang semestinya kampung halaman Ibu dan kami anak-anaknya juga), jika ‘harus’ ke sana, paling-paling hanya Ayah ibu dan adik, sedangkan saya dan ajo ditinggal di Lampung, dititipkan di rumah tante, sedangkan uni dan ajo yang sudah sekolah, malah di tinggal saja di Jakarta bersama Om yang kebetulan memang kuliah di Jakarta.

Jika bisa dinilai dari harga tiket, jika mau berlogika.. menjadi hal yang sangat wajar, ketika akhirnya Ayah selalu memutuskan ‘ke rumah Nenek di lampung saja’ karena tiket kesana murah, dan bisa pakai mobil saja.. jadi lebih murah dan lebih cepat, Untuk ke Lampung, hanya butuh 6-7 jam, sedangkan ke Padang perlu 2 hari 1 malam dengan kapal laut…

Tapi, saya pribadi lebih menilai… betapa Ayah mendahulukan kepentingan anak-anaknya, mementingkan kenyamanan keluarganya, Ayah tidak pernah rela anak-anak nya ‘kelelahan di jalan’ (walau kami tahu, hanya akan tidur saja di mobil), Ayah tidak pernah merelakan anak-anaknya ‘ijin sekolah’ hanya agar Ayah bisa bertemu orang-tua nya.

Terimakasih ayah, yang sudah mengorbankan waktunya untuk bertemu orang-tuanya, tapi tetap membiarkan kami tetap merasakan ‘mudik’ walau hanya ke rumah orang tua ibu.

#Ayah, yang mendahulukan Istri dan Anaknya..
#Ayah Saya
#Mudiknya Ayah

Praaang and the plates into shards

Praaang.. And the plates into shards

Friday, March 5th 1993

Today is Ramadhan 11th 1413 Hijriah, a sawm day, well off course you don`t do the sawm due to you are just a little girl, your sister Mira also, yet she is learning to do the sawm (she join Suhur, later on around 10 AM she eat. What’s been kind of bothering, you are overact more than those who do the sawm
Every day you are busy about meals only, if day light you keep asking your mother “Mom, today what do you cook, what are you going to make”, sometimes you also request “mom, can we cook this one, that one, etc” , if your mother say “today, we will not cook anything for Iftar ” , You look disappointed and saying “yaaaah, there nothing for Iftar” .

Often you also arguing with your sister Mira, deciding who will buy ice cube during afternoon.

stock-photo-shards-of-a-broken-plate-on-a-wooden-surface-105580115Just like usually, approaching Iftar, the children help their mother preparing the meal, and so were you, Yesterday on May 4th, you also help your mother, you bring rice, and going around the kitchen, once you carried the plates, all of the sudden the plates slip, 3 big plates slip, hit the rice bowl, broken into pieces, the shard some also probably mixed in the rice bowl.
Then we clean and tidy up the shards, the rice that probably had plates shard, is untouchable.

You look frighten, but your father and mother did not scold you,
if you are in the village back years, the time your father is just a boy, kids who broke plate usually got scold and the mother will hit the kid.

#Our Ramadhan Stories
# translated from my sister’s diary written by our father

Diary Nansi

Diary Nansi

# 7 Ramadhan 1436 Hijriah

#picture a shards plate taken from http://www.shutterstock.com

Antar- Jemput adalah HOBI Ayah kami

Antar Jemput adalah `HOBI` Ayah kami

Ayah senang sekali melakukan hal `antar jemput` ini.
Saya sendiri tidak dapat mengerti, kenapa Ayah melakukan hal itu.

Teman sekolah kami pasti mengenal Ayah kami, karena Ayah kami adalah yang suka sekali mengantar dan menjemput.
Ketika saudara datang, Ayah akan menjemputnya di stasiun, di bandara, dan akan mengantarnya kembali, ke terminal, ke stasiun. Kalaupun ayah tidak sempat mengantar, setidaknya Ayah akan berusaha membelikan tiketnya di sela-sela aktivitas kantornya.
Ketika ada undangan pernikahan dari `sodara` sekampung, Ayah akan berubah menjadi tukang pos nya, Ayah akan berusaha mengunjungi satu persatu orang-orang tersebut.

Maka tak heran ketika menemukan `goggle maps` di tas kecil ayah, di sana kami menemukan kertas kecil yang banyak, dengan tulisan ayah dengan alamat dan cara menuju kesana, saya sendiri pernah menemukan kertas bertuliskan `keluar tol kopo, belokan kedua, lihat plang…` Ya itu lah google maps versi Ayah.

Lalu ketika saya menanyakan `kenapa sih Yah, ayah melakukan hal itu ?`
Ayah bilang ` Ayah kan ga ada uang untuk menolong saudara ayah, jadi kalau hanya ini yang bisa Ayah lakukan, maka ayah akan lakukan, walau cuma sekedar mengantarkan undangan, sekedar menjemput, sekedar mengantar`

Maka ketika suatu hari, dengan berat hati , mobil Zebra Ayah harus dijual, dan Ayah tidak lagi bisa melakukan kegiatannya `wara-wiri`, dan saat itu, kamipun tak pula bisa melakukan apa2..

suatu hari, Ayah mendapatkan telepon dari salah satu minimarket, memberitahukan kalau anak Ayah ada yang mendapatkan hadiah Motor, maka sejak itu.. di rumah Ayah jadi ada Motor, dan Ayah menjadi bisa wara-wiri lagi.

Tapi, HOBI Ayah yang suka Antar Jemput ini, rada susah sepertinya kalau dengan sebuah motor… maka suatu hari, Ayah pun disediakan sebuah Karimun Biru, dengan sedikit ucapan `biar Ayah dan Ibu tak kehujanan dan kepanasan kalau pergi keluar`.

Ya, kalimat itu lah yang sering diucapkan Ayah, ketika ada saudaranya yang bertanya `kama Mobil Zebranyo jo ?`, Ayah akan menjawab `lah dijua`, lalu ketika ditanya `iko, oto sia ?`, Ayah menjawabnya `oto anak, awak mamakai sajo, keceknyo bia awak jo induknyo indak angek di jalan`
Lalu kalimat yang paling Ayah senang `eeee, lah sanang ajo kiniko`

Dan Ayah pun tetap bisa pergi kemana mana dengan mobil karimun itu.

#terimakasih Uni dan Abang, yang sudah berusaha menyenangkan hati ayah, tetap membuat Ayah merasa berguna bagi anak dan saudara2nya.
Facebook-20150524-065725