Rumah Sakit BUKAN cuma sekedar bangunan

Rumah Sakit bukan Cuma sekedar Bangunan

Beberapa kali mendengar pasien rujukan `ditolak` karena ruangan penuh.
Hari ini pun, salah seorang teman saya bercerita `dulu antar orangtua untuk dirawat katanya ruangan penuh, padahal pas dilihat keruangannya..ada aja tuh yang kosong bed nya

`maaf ruangan penuh`
Setiap RS memang memiliki tempat tidur (bed) yang banyak, tapi perlu diketahui, faktor ada pembagian untuk penyakit-penyakit tertentu sesuai dengan Departemen yang menanganinya dan pembagian ini saya yakin berdasarkan angka kesakitan, angka lamanya rawat inap, setidaknya data epidemiologi. Ambil contoh, 1 ruangan dengan 2 bed, misalnya pasien Demam yang perlu observasi hingga paling tidak 7 hari ke depan bandingkan dengan
pasien yang akan hmenerima transfusi rutin yang membutuhkan waktu maksimal 1-2 hari, maka menjadi kebijakan kalau ruangan untuk pasien Demam bisa jadi lebih banyak, sedangkan untuk pasien one day care (misalnya transfusi ) menjadi lebih sedikit yang kalau kita melihat angka perbandingan secara kasar, ya berarti untuk 7 pasien demam perlu 4 ruangan selama 7 hari, sedangkan untuk pasien 7 pasien transfusi, hanya perlu dijadwalkan per 2 orang hingga maksimal 4 hari kedepan.
Lantas kalau di hari itu, tidak ada pasien Demam, bukankah itu berarti ada BED yang
sebenarnya kosong ? kenapa tidak diisi saja oleh pasien lain ?
Perlu diketahui dulu, apa diagnosa Demam pasien tersebut ? , sebagian besar Demam adalah disebabkan Infeksi, infeksi berarti ada kemungkinan menularkan, apakah keluarga pasien mau ? menempatkan pasien ditempat yang mungkin malah membuat tambahan diagnosa penyakit. Jika pun keluarga pasien MAU, pastilah dari pihak Rumah Sakit yang akan tidak mengijinkan, sehingga pasti akan terucap `maaf ruangan penuh`

`Maaf , Alatnya tidak ada`

Masih menyambung di cerita tadi `kenapa juga tidak sekaligus saja dalam 1 hari 4 ruangan, sehingga pasien one day care selesai dalam one day care, bukan one by one ,
Lagi-lagi .. Rumah Sakit Bukan Cuma sekedar tempat tidur saja, ada beberapa tindakan prosedural yang membutuhkan alat tertentu dan alat tersebut jumlahnya sangat terbatas. Misalnya, tindakan transfusi tadi, karena dibutuhkan ketepatan presisi saat penginfusan, sehingga perlu lagi alat tambahan, dan jumlah alat yang tersedia pun terbatas dan tindakan seperti ini, membutuhkan ketelatenan seorang Perawat sehingga terkadang harus 1 pasien 1 perawat
Apakah keluarga pasien mau, membiarkan pasien menerima dosis obat yang asal2an ? tanpa terawasi ?. Kalaupun keluarga pasien mau, pastilah Rumah Sakit tidak ingin melakukan hal tersebut.

`Maaf, jadwal operasinya harus mengantri`

Sekali Operasi paling juga mengambil waktu 3-4 jam, ya, mungkin benar, lalu timbul lagi pertanyaan (permintaan) kalau begitu sehari bisa operasi 3-4 pasien.
Maaf, tapi saat dokter melakukan operasi, kebanyakan dilakukan dengan posisi berdiri,
pernah mencoba ? Berdiri Tegak selama 4 jam atau bahkan ada operasi yang membutuhkan waktu hingga 10 jam. Dan lagi pula, para dokter bukan Robot yang tidak merasa lelah, mereka lelah, dan mereka butuh istirahat
Atau barangkali, keluarga pasien rela, pasien dioperasi tengah malam, setelah dokternya usai melakukan 2-3 operasi sebelumnya, sehingga bisa dibilang dokternya sudah mengalami kelelahan.
Jika pun keluarg pasien rela, maka pihak rumah sakit tidak akan mengijinkan.. maka dibuatkanlah jadwal operasi terjadwal. Dan jika sebuah operasi mendadak diperlukan, itu adalah kasus EMERGENCY

`Maaf, dokternya belum datang`

Yah, sekali lagi `maaf, dokternya belum datang` pernah terlintas kenapa dokternya datang telat ? bisa jadi, beliau habis memberikan kuliah ke peserta Didiknya, Bisa jadi beliau baru saja selesai melakukan operasi di tempat praktek lainnya, bisa jadi, beliau sedang sarapan (jam 11 siang) karena sebelumnya harus memimpin rapat terlebih dahulu…
Ya, Dokter di sebuah Rumah Sakit, memiliki fungsi pelayanan dan non-pelayanan. Apalagi di Sebuah Rumah Sakit Pendidikan, seorang dokter adalah dokter yang mengobati, dokter pendidik, dokter peneliti, dokter staf .

Rumah Sakit bukanlah sebuah bangunan kosong yang hanya terdiri dari tempat tidur saja, Rumah Sakit perlu ditopang pula dengan sarana prasarana dan sumber daya manusia, Sebuah tempat tidur hanya menghabiskan jutaan, tapi 1 alat penunjang bisa sampai ratusan juta bahkan milyar, dan Dokter baru hanya bisa didapatkan setelah mereka menempuh 6 hingga 10 tahun masa pendidikan.

Jadi,
Maaf ketika harus terucap Ruangan Penuh, Alat tidak ada, Jadwal Operasi Mengantri, dokternya belum datang, karena itu semua, demi kebaikan pasien juga.

# mencoba berbaik sangka semoga suatu saat tercapai Rumah Sakit dengan Pelayanan Ideal ditopang sarana prasarana yang ideal, dan tenaga medis yang ideal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s