20 tahun lalu, dan kini, Ayah…

Ayah dan Ludy di Kampus UI Depok

Ayah dan Ludy di Kampus UI Depok

1994, 20 Tahun yang lalu, Tadi pagi Ajo Iga berlari-lari membawa Koran Pengumuman UMPTN sambil bilang “Uni diterima di UI” Yang Ayah lakukan setelahnya, tentulah menelpon keluarga, salah satunya adiknya yang di Padang Lalu ketika masa pendaftaran.. mungkin wajah Ayah kami tampak campur aduknya : senang, bangga, terharu, bingung, karena baru inilah anak ayah yang memulai kuliah, dan Ayah kerap sekali berucap “Saaludin si Anak Desa, punya anak yang kuliah di UI”.

2014, 20 Tahun kemudian

Ludy diterima di UI, minggu depan ke Jakarta, iya Ayah, akan kami jemput, akan kami antarkan ke UI akan kami bantu cari kosannya. Setelah lebih dari satu Minggu Ayah di Depok, sekali waktu di Mobil, Ayah cerita sama Uni, kemarin pas pendaftaran disapa orang, mungkin karena tampang ayah seperti bingung kali yah dibilang “baru yang pertama diterima di UI ya pak” , lalu Ayah jawab saja “oooo tidak, kakaknya sudah ada di kedokteran UI” lalu kata Ayah “muka yang nanya itu langsung berubah” (ahahahaha Ayah..!!! Seharusnya Ayah tahu, kalimat “UI aja sudah WAH…apalagi ditambah kedokteran”)
Siapa Ayah ini ? Namanya Jamaludin, tapi keluarga besarnya memanggil dirinya Unang. Dirinya adalah saudara kandung laki-laki satu-satunya bagi Ayah kami, dan (sepertinya) dengan kesepakatan diantara mereka berdua, jadilah Ayah kami dipanggil Ayah Gadang (Ayah Besar) oleh putra putri nya, dan sebaliknya kami memanggil Ayah Ketek (Ayah Kecil) kepada dirinya, namun tentunya panggilan Ayah Gadang atau Ayah Ketek hanya terjadi ketika mereka berdua berada disatu tempat, biasanya kami cukup memanggilnya dengan Ayah… Karenanya jangan heran ketika Ayah kami sudah berpulang, tapi kadang-kadang kami menerima telepon tetap dengan sapaan “Ayah”, bukan dengan sapaan Apak, Mamak, Om, atau Paman , ya saat itu kami sedang menyapa paman kami “Ayah Ketek”

—————————————-

Hari itu, kami menerima kabar kalau salah satu putra Ayah Ketek diterima di Universitas Indonesia. Saat itu yang terbayang… kalau Ayah kami masih ada pasti beliau akan turut bangga sekali, lalu Ayah pasti akan mengatur dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan adik laki-laki2nya dan keponakan kesayangannya itu.
Karena Ayah sudah tidak ada, maka “kebanggaan dan segala persiapan itu” tak pelak menjadi milik kami “sang Kakak2”.

15 Juni 2014
Persiapannya dimulai dari menjemput di Bandara Soekarno Hatta, kebetulan Ajo Mizu hari ini masih ada di Indonesia dan Mira juga sedang pulang dari Bandung. Pagi-pagi kami berangkat ke Bandara, mencari satu sosok yang sedarah dengan Ayah sendiri tidaklah sulit karena memang mereka bisa dibilang mirip, yang membedakannya adalah, Ayah Ketek masih berlogat Padang karena memang masih tinggal disana.
Setelah itu sepanjang jalan obrol-obrol, walau sudah terlalu berbeda jauh rentang dunia pendidikannya… jadi ketika Ayah (ketek) bertanya nanti mau ke balairung, gimana daftar ulangnya, dll kami hanya bisa tertawa dan bilang “ Waduh, ga tau juga Yah, dulu yang diterima S1 di situ ya Uni.. dan itu udaaaaah 20 tahun yang lalu, kata Uni sih nanti dinyanyiin lagu GAUDEAMUS, sampai capek nyanyi nya”
Lalu selepas makan siang, Ayah bilang “ingin lihat-lihat UI nya” , boleh Yah, nanti diantar sekalian foto-foto ya Yah, kalau tidak hujan. Jadilah hari itu kami berkeliling UI Depok, walaupun baik Mira maupun Ajo Mizu tidak tahu seperti apa Kampus UI Depok, karena kami tidak bersekolah di situ, dan kami pun hanya bisa bilang “yaaah Cuma tahu luarnya aja dan gedung rektoratnya aja”
Seperti layaknya orangtua mahasiswa baru, dengan segala kebanggaannya , sesekali kami berhenti untuk sekedar memfoto Ayah dengan Ludy, putra nya di depan gedung rektorat dll. Sayang hari ini kampus tutup, kalau tidak, mungkin yang akan kami lakukan adalah mencari Koperasi nya untuk membeli segala atribut Arsitek UI (Kaos, Stiker, Gantungan Kunci, dll)
Besok-besoknya, giliran Ajo Gadang menemani untuk pendaftaran serta mencari kosan untuk adiknya. Lalu tiba untuk mengantar pulang, kebetulan Uni sedang di Depok, Uni pun mengantarkan Ayah pulang.

—————————————————————–

4 Juli 2014 #Terima kasih Ayah (ketek) dan Ludy, baru kali ini, kami putra putri Ayah (gadang) dapat sedikit mengerti seperti apa perasaan yang membuncah di diri Ayah kami, ketika kami putra putri nya diterima di sebuah Universitas atau Institut, dan bisa menghadirkan perasaan itu hingga beberapa kali bagi Ayah kami, sungguh hanyalah hadiah “kecil” dari kami yang dihargai dengan sangat “BESAR” oleh sosok yang kami panggil Ayah.

#sayang 20 tahun yang lalu, kami tak bergadget.. jadi tak ada foto Ayah bersama Uni nih xD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s