ramuan baru yang disebut kebijakan

Jadi dok, pasiennya diresepkan apa ? Obat A, obat B , obat C
Harganya dok ? Obat A aja Rp. 8.000 / tablet Obat B.. lupa harganya.. obat C juga
Berapa lama dikasihnya dok ? untuk 2 minggu.
Cukup dok ? kan Rp. 8.000,- x 15 = Rp. 120.000,- bukannya batasnya Rp.150.000 ?! obat lainnya ? (ga dijawab lagi)
Memang Cuma perlu 2 minggu, atau nanti dikasih lagi ? harus minum tiap hari, ya nanti 2 minggu lagi kesini lagi.
Lha.. memang pasiennya rumahnya dekat dok ? hm.. (ga dijawab lagi)

Hm… dan percakapan itu terhenti. karena “BINGUNG” meneruskannya…

Entahlah, apakah ketika sekat-sekat biaya obat, laboratorium, jasa medis, ditentukan mereka yang disebut para ahlinya sudah melakukan riset bertahun-tahun, study banding ke Negara lain (mungkin). Apakah mungkin, riset dilakukan sejak harga 10-20 tahun yang lalu, sehingga “patokan sekat” yang digunakan adalah harga-harga 10-20 tahun yang lalu ? sehingga menjadi tidak eligible lagi untuk diterapkan ketika masa sudah berganti lebih dari 1 dasawarsa.

• apakah diantara “Team ahli” itu tidak ada pakar bidang ekonomi yang bisa memprediksi akan bagaimana laju dollar yang sangat mempengaruhi biaya impor bahan baku dan biaya produksi obat.
• Tidak adakah ahli statistik, yang “memprediksi” seperti apa laju pertambahan penduduk, akankah penduduk Indonesia menjadi grafik “penduduk tua” atau “penduduk muda” (jika ada yang masih ingat, grafik penduduk saat pelajaran geografi, sosiologi). Sehingga pola penyebaran penyakit dapat diduga, dan sarana penunjang dapat disesuaikan.
• Tidak adakah para ahli di bidang penyakit yang memperjuangkan obat dan pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk tegaknya suatu diagnosa sehingga proses penyembuhan penyakit yang sesuai bidang keilmuannya tidak ada yang terpangkas, agar setiap tenaga medis di lapangan dapat memberikan pelayanan dengan semaksimal mungkin, tanpa harus memikirkan hal lain.

Sangat yakin, para ahli itu ada.. dan (berharap) setidaknya mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan

Lalu bertanya kembali, adakah pertemuan yang terjadi diantara para ahli itu ? sehingga terbentuklah ramuan yang meliputi semua aspek , yang tidak menguntungkan 1 pihak, tidak pula merugikan 1 pihak. Tapi, satu yang harus disadari, layaknya sebuah Ramuan baru yang diperkenalkan, tidak ada Ramuan yang benar-benar 100% aman, selalu ada yang disebut EFEK SAMPING, karenanya orang-orang selain para ahli itu hanya bisa berharap dan percaya, setidaknya Ramuan baru itu lebih sedikit efek samping, sehingga lebih tidak merugikan banyak pihak.
Ramuan baru .. obat baru.. yang disebut KEBIJAKAN, yang dibuat berdasarkan (mungkin) proses pemikiran panjang para ahli pembuat kebijakan.

# Berbaik sangka kepada para ahli tersebut… 1 Minggu pasca berlaku nya JKN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s