The Moment We Stand Up Alone together ( Ayah – in memory)

Jum’at 10 Juni 2011

11.00

HP terus saja bunyi.. tapi sedang di ruangan susah signal…

HP bunyi.. telp dari rumah Jakarta.. dari Ajo.. terakhir dari Uni…

Hanya terdengar “Pulang..Pulang… ga jelas ada apa ya ? Memang berencana pulang.. tapi nanti malam, atau besok pagi saja… Karena Ayah pasti ga suka kalau anaknya pulang malam, lalu tidak bisa menjemput.. atau terlalu capek…

Keluar dari ruangan tak bersignal itu… Uni nelp lagi.. “Pulang sekarang..!!!! Ayah masuk ICU”

Langsung SMS konsulen.. Ijin pulang cepat…. Mau naik kereta saja…

Ga bisa mikir apa-apa.. sampai diingatkan oleh konsulen2.. “Tenang Mira.. jangan buru-buru.. makan dulu.. sholat.. baru berangkat.. harus tetap jernih pikirannya..”

Di Kereta…

SMS and telp Uni.. Uni dah di Jalan…

Di Kereta… duduk sendiri… flashback tentang Ayah.. Nangis sendiri… Orang lain di Kereta pada ngeliatin kali ya…

Sampai Gambir langsung naik Taksi… Jakarta macet… sampai di RS jam 19.00…

Langsung ke Kamar Rawat Ayah….  Sudah ada Ajo Gadang dan Katangah.. Juga Ajo Mizu.

Kata Ajo.. nanti sesekali dipanggil Ke ICU.. klo dipanggil.. Mira aja yang kesana…

19.30 … Tanpa firasat apa-apa… Ada Panggilan untuk ke ICU.. diputuskan yang ke ICU.. Mira dengan Katangah Ika saja… Tanpa firasat apa-apa.. Pakai Baju ICU.. masuk ke Ruangan ICU…

Mira ga tau.. Ayah di Bed Mana… yang Jelas.. ada Pasien yang Sedang Di RJP karena apneu…

Dan tiba-tiba saja Katangah bilang “Astagfirullah.. tolong talqin kan… sambil meluk Mira dari belakang.. lantas Mira benar-benar diam tidak mengerti… lalu Ajo dan Jo Mizu juga masuk.. diam.. (dan mungkin menangis…).. Mira langsung ke samping Ayah, mentalqinkan… RJP itu berhasil… (Amazed.. seberapa Ra melihat RJP.. yang “mungkin” Cuma formalitas… atleast… RJP kali ini.. berhasil.. atau memang “Ayah belum mau pergi…”

Saat itu… ntah dimana posisi Ra… “Dokter yang Anak Ayah..” atau “Anak Ayah yang Dokter”

Mendengar kembali informed consent dari Team Dokter.. “Prognosa Ad Malam… “ Nothing can be done…

Uni Datang…

Minta ditemenin untuk masuk ke dalam ruang ICU…

Saat itu… memang harus memposisikan “anak ayah yang dokter” menjadi anak yang kuat.

Malam itu… Ra jaga bersama Ajo Mizu, walau bagaimanapun… sangat tidak ingin beranjak dari sisi Ayah.

Duduk di luar ruang ICU, sambil ajo terngantuk-ngantuk.. karena mungkin udah 2 hari tidak tidur dengan benar…

Sabtu, 11 Juni 2011

Entahlah.. sudahkah masa kritis ayah terlewati ?

Pagi-pagi dipanggil dokter jaga, sekali lagi di informed consent “prognosa ad malam”.

Ditengah kebingungan… harus bagaimana kami anak-anaknya bertindak ?, ketika biasanya semua keputusan itu.. ayah lah yang memutuskan…

Haruskah membiarkan ayah tetap terbaring di sana ? atau membawa ayah kembali ke rumah ?

19.00

Kembali memulai “jaga malam” di ruang ICU. Setelah 36 jam tidak tidur… kembali bertemu dokter jaga.

Kembali mendengar “informed consent” “prognosa ad malam”. Entah keberanian darimana… Ra bisa bilang kepada ajo “let me do the talk, nanti ra jelaskan”

Masih terngiang.. perkataan dokter jaga itu “apakah kalau apneu lagi, mau dilakukan RJP lagi ?”.

,mencoba menjelaskan kepada Ajo gadang “ Ayah, sudah pergi kemarin, tapi kmrn sempat kembali, benar-benar keajaiban, ketika kemarin ayah bisa kembali… bagaimana Jo ? apakah kalau henti jantung, mau dilakukan pompa jantung lagi ?… kasian ayah…”

Ajo pun akhirnya bilang “kalau hal itu akan  terjadi, panggil saya untuk mentalqinkan !!!”.

Satu yang Ra sadari saat itu… “saat itu.. Ajo, sepertinya sudah siap menggantikan posisi ayah, menjadi pengambil keputusan dalam keluarga kami”.

Masih ingat ketika diberikan lembaran tandatangan “Do Not Resusitate”.  Ra menandatanganinya…

Entahlah… masih tidak mengerti, ketika saat itu.. kami anak-anak ini “tiba-tiba” bisa menjadi pengambil keputusan…

22.00

Satu-satunya Adik Laki-laki ayah datang, mungkin beliau lah yang paling Ayah tunggu… karena memang dirinya lah yang akan menjadi tempat kami bertanya.

23.00

Entah kenapa, Ajo Mizu yang seharusnya pulang beristirahat, memutuskan untuk kembali menjaga Ayah di depan ruang ICU.

Kelelahandan  rasa mengantuk itu sepertinya hilang entah kemana…setelah 40 jam Ra tidak tidur.. entah berapa jam ajo2 tidak tidur… kami bertiga duduk di luar ICU.. tanpa kami sadari, kami tertidur… Tidur yang menurut ra sangat “damai” walau tiba-tiba panggilan dari ruang ICU terdengar sangat jelas “Keluarga Bapak Sutan”

Ketika sekali lagi Ra harus bilang sama Ajo “ bener? Ajo kuat ??”  (karena dalam hati, ra pun ga yakin “kuatkah diri ra ? seberapa kekuatan yang ra punya untuk menguatkan hati 2 orang ajo ini…”

Ketika kami bertiga masuk…

Ra di depan, melihat monitor… melihat Ayah… ketika garis EKG mulai menunjukkan  mulai melandai… seolah tersadar lalu ra bilang… “ajo, talqinkan ayah” (teringat ketika kemarin, 2 orang ajo ini hanya bisa berdiri diam di depan pintu masuk…tak bergeming).

Tapi kali ini dengan langkah jelas, Ajo gadang dan ajo mizu mengambil posisi disamping kiri kanan ayah…

Tanpa kami sadari… tiba-tiba keluarga ayah sudah ada dibelakang Ra.. suara mereka pula yang menyadarkan kami bertiga “Innalillahi wa inna illahi rojiun”

Tak lama suara perawat dan dokter pun terdengar “ Time..time”

“Time of Dead” “Waktu Kematian” 23.55

Ra bilang sama ajo “ Ajo harus kuat…ajo harus kuat…”

Ajo gadang bilang “Sudah selesai tugas ayah mendidik kita…  Ayah sudah berhasil mendidik kita”

3 menit ? 5 menit ? ketika kami bertiga masih berpelukan di ruang ICU itu…

Lalu ketika kami melangkah keluar ruangan ICU. Tangis itu benar-benar terhenti… setidaknya yang tampak…

Menghubungi Uni dan Siti ( yang juga mungkin tak tidur di rumah sana…) .

Membagi-bagi tugas…

Ini lah tugas kami anak-anak nya…

Ajo gadang dan Ajo Mizu yang memandikan ayah.

Uni dan Siti langsung siap-siap di rumah sana…

Mira dan Ajo Mizu, di belakangnya… mesti mempersiapkan bla-bla nya… hari ini pasti banyak tamu datang… sementara kami sudah seminggu di rumah sakit saja.Ajo gadang berangkat duluan bersama ambulan yang membawa Ayah.

Minggu, 12 Juni 2011

Ayah disholatkan… Imamnya, menantu ayah sendiri… Yang turun ke liang pun putra2nya…

Sebisa mungkin.. kami ingin menunjukkan pada orang lain

“Inilah kami.. didikan ayah kami… ketika Ayah kami pergi, maka beliau pergi karena telah selesai mendidik kami.. telah yakin bahwa kami.. anak-anaknya sudah dapat menapaki langkah kehidupan dengan tegap”.  

Ibu bilang , setahun ini..  ayah pernah bilang “ayah ga mau sampai melewati usia nabi… kalaupun ayah harus pergi, kayanya Ayah bisa pergi dengan tenang, karena Ayah yakin anak-anak Ayah tetap satu..”

Dan doa seorang ayah itu.. sungguh didengar… Ayah pergi di Usia 62 Tahun 11 bulan 1 minggu (3 minggu sebelum usia 63 tahun).

29 Mei 2012

50 Minggu 2 hari tanpa Ayah

Pengen bilang sama Ayah

“Ayah… Inilah kami… yang tetap berdiri tegak…”.

“Ayah… inilah kami.. yang tetap menjadi satu…”

Advertisements

BKI -Bubur Kacang Ijo

ada 3 versi BKI di keluarga kami

1. Versi Buatan Ibu, salah satu variasi menu sarapan klo weekend, dimasak subuh-subuh.. yang membuat idung duluan bangun, daripada mata melek, karena WAAANGIII bangedh dengan paduan susu bubuk dan santan pandannya =D

2. Versi buatan Warung Internet-BKI-Ropan (Indomie Telur Kornet-Bubur Kacang Ijo-Roti Panggang) yang buka tiap hari.. 24/7 (sekarang beberapa cabang (tanpa pusat) sepertinya mulai melayani sistem delivery =D .

3. Versi Penjaja Keliling.. yang lewat depan rumah sekitar jam 9-11 pagi, dengan nada panggil mangkuk yang dipukul dengan sendok…

ImageUni :

klo buatan ibu : Bubur kacang ijo itu, kudu dibungkus pakai plastik.. masukkan ke freezer jadi Es BKI, mantep dah…

klo selain buatan ibu : “Ketan Itam nya aja…!!!

Ajo Gadang : BKI buatan Ibu.. buat Sarapan, Brunch, Lunch, jadi lauk juga gapapa….

One :

Buatan Ibu : Tuang ke Mangkok, tambahkan es batu.. jadi Es BKI

Kalau selain buatan ibu : Tuang ke mangkok, masukin ke kulkas.. tinggalin sampai sore… biar dingin….

Ciuniang 

Buatan Ibu : BKI buatan ibu emang enak… tapi.. dengan polosnya tetep beli keluar.. dengan alasan “BKI buatan ibu.. ga ada ketan itam nya”